Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Asal kata Sinamot dan Pengertiannya

Minggu, 13 Agustus 2023 | Agustus 13, 2023 WIB | 0 Views Last Updated 2023-08-13T12:53:29Z


PEWARNA PUBLIK SAMOSIR,-Drs.Togarma Naibaho, M.Pd.Salah satu Pemerhati dan Pelaku budaya Batak.Dimana Kecintaanya akan Budaya Batak sudah sejak lama. Dimana dirinya berharap dengan karya karya yang beliau buat nantinya dapat di teruskan para generasi muda Suku Batak.Hal tersebut dia sampaikan pada awak media Pewarna publik,Sabtu 12 Agustus 2023.

Di tulisan ini Drs.Togarma Naibaho M.Pd membahas akan Sinamot dan Sinonduk Hela di adat orang Batak Toba. Serta acara pernikahan orang Batak Toba kala itu secara ringkas.
Ditulisan ini Drs.Togarma Naibaho, M.Pd. Menuliskan akan Awal kata Sinamot dari Ucapan 
Hata ni Samot menjadi ucapan Hata Sinamot ,(membicarakan Samot atau harta/sumber atau modal pengantin baru membentuk rumah tangga baru). 

" Itu sebabnya orang tua putra disebut *Pansamot* atau penyedia Samot.
Samot itulah meyakinkan orang tua putri bahwa Putrinya akan ditempatkan sebagai calon "Soripada" (Sripaduka=Permaisuri) lalu di persiapkanlah  keperluan hidupnya,Dan putranya menjadi calon *Raja*.

Selanjutnya tugas orang tua putra akan " Pajaehon "(memberi hidup otonom).Dimana dikegiaatan tersebut,Pihak keluarga akan datang guna mengantar *tumpak*( Sumbangan)  serta Melengkapi keperluan calon *ripe naimbaru*.( Istri/ Menantu baru).Dimana hal ini akan membuat  Suhut( Pihak keluarga Utama) akan  *Sonang so hariboriboan.* ( Merasakan kebahagian yang sangat besar) 

" Itu sebabnya di acara adat hanya keluarga inti yang berada di Rumah Adat. Selanjut nya *Unjuk/Pesta di Alaman ( dulu di pelataran Huta)* di sanalah semua akan menari sepanjang hari, Dimana Kala itu pemberian " Tumpak " dari Keluarga ada yang membawa ternak untuk bekal Pengantin,alat tenun untuk putri, peralatan dapur, alat pertanian,

Tujuan awal Sinamot  untuk modal membentuk rumahtangga baru.  Sekarang pola pikir sudah  bergeser bahwa Sinamot diartikan sebagai uang Mahar atau Tuhor ni Boru. Dari itulah digunakan untuk biaya pesta.

Padahal biaya pesta itu bergantung kemampuan dan kesepakatan bersama dari kedua belah pihak dengan dukungan keluarga dekat masing masing. Di situlah muncul  *Suhi ni Ampang Na Opat* yang akan dibahas tersendiri. 

Maka muncullah _umpama_ *Adat do nagelleng, adat do ba balga* (Besar atau kecil acara, nilai adatnya sama). Bukan karena besar maka benar, tapi karena benar maka besar.Begitu filosofinya.

Drs.Togarma Naibaho, M.Pd. juga menuliskan terkait akan Sonduk Hela, ( Menantu laki laki yang tinggal di Kampung Mertua) Dimana dahulu ada kalanya menantu laki laki tinggal di Huta / Kampung Mertuanya dapat tinggal di karenakan beberapa hal. Kemungkinan menantu laki laki 
Telah menunjukkan akan  pengorbanannya membela harkat martabat yang  punya putri ( Mertua) dan juga Ada kalanya karena Mempertaruhkan nyawa demi mempertahankan Huta orang tua putri ( Mertua) dari serangan musuh.

Dan di Zaman sekarang ini,Menantu laki laki tinggal di kampung Mertua bukan lagi bertarung dengan fisik ,Menantu laki laki tinggal di Kampung Mertuanya boleh jadi Mengembangkan usaha orang  tua dari Istrinya 
Kiranya tulisan ini dapat  membuka mata hati  kita bahwa acara adat sekarang sudah semakin memberatkan bukan mensejahterakan.

Seperti Umpasa ( Pantun) Sinuan bulu sibaen na las, Sinuan adat sibaen na horas.
( Ditanam bambu demi kehangatan, ditanam adat demi kesejahteraan bukan kesengsaraan).

( Tampu29)
×
Berita Terbaru Update